Ordered List

Senin, 27 April 2015

Puisi, SENIN


SENIN
" Aku melihat kematian begitu
Indah "
Bulat pucat purnama di langit
yang gelap
memenuhi rongga langit yang
temaram dengan aroma dupa
mistik yang misterius.
Aku melihat kematian begitu
indah
Lembut mengalir bening ,
membelai batu gamping warna
krem yang berserak di dasarnya.
Menciptakan riam-riam kecil.
membuat laju sepotong daun
kering yang hanyut terguncang
dan tertahan-tahan.
Lalu dengan sayap putih
lembutnya , mengepak empuk
terbang riang melayang hampa.
Di tengah gurun tandus dia
berkelana menunjukan jalan pada
setiap langkah pengelana yang
tersesat.
Gurun yang hanya menyisakan
udara panas dan angin kuat
berdebu.
Yang menjelmakan hasrat Liar
dengan dominasi pada hidup.
Bahkan hingga saat ini aku masih
melihat kematian begitu indah.
Tanpa harus ada darah yang
tumpah dari nadi yang terkoyak.
Tanpa ada tubuh yang tergantung
kaku di atas kusen berdebu.
Kematian melayang perlahan dan
hinggap di lubuk kalbu yang
mulai enggan untuk berdetak
secara teratur.
Hanya tubuh yang diam terbaring
tenang.
Seperti tidur panjang yang
nyenyak dengan mimpi indah
tanpa akhir.
Dan kini keindahan itu
memelukku.
Menyergap lembut dari belakang
dan mendekap erat penuh hangat.
Seperti kekasih yang
menumpahkan segala rasa rindu .
Ada tangisan bahagia ada kecupan
rasa suka.
Lalu kematian memasangkan
kedua sayap mungilnya di
belakang pundakku.
Memberikan padaku Mahkota
bercahaya.
Lingkaran bersinar yang melayang
tepat diatas kepalaku.
Aku seperti dewa matahari.
Seperti dewa matahari badanku
melayang ringan dan bercahaya
penuh kharisma.
Memendar dalam dingin dan
udara yang berasa apa-apa.
Aku melihat kematian sebagai
serpihan dari puzzle yang harus
dirangkai satu persatu.
Untuk mendapatkan sebuah rupa
yang utuh dan sempurna .
Kematian maksimal.
Kebebasan sejati.
Dari rasa sakit. 
Baca selengkapnya »

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © Hanya Sederhana 2013

Template By Intan Dina Kartika